Di
sinilah keteguhan seorang istri dan ibu dipertaruhkan. Saat Habibie
mulai merakit mimpi-mimpinya, Ainun berada dalam titik penentuan. Di
saat Ainun menolong banyak anak dan menyembuhkan mereka dari sakit,
justru putranya mengalami sakit. Hal itu membuat pemikiran Ainun
berubah. Akhirnya wanita yang lemah lembut ini menanggalkan jubah dokter
untuk mengabdi sepenuhnya untuk suami dan buah hati mereka.
Saat Habibie kembali ke Indonesia untuk mewujudkan mimpinya membuat pesawat
terbang, Ainun selalu setia mendampingi dan menguatkan suaminya. Juga
saat Habibie masuk dalam dunia politik yang penuh godaan uang dan
perempuan muda yang cantik, kedua tetap memperjuangkan kesetiaan akan
cinta dan pengabdian untuk negara. Ainun tidak pernah lupa menyiapkan
obat untuk sang suami, dengan kenyataan bahwa dia sendiri sudah divonis
memiliki kanker ovarium. Ainun merahasiakan hal itu dari suaminya,
dengan harapan agar Habibie tetap fokus mengemban tugasnya yang semakin
berat.
Sedikit demi sedikit, kanker yang diderita Ainun menggerogoti tubuhnya.
Habibie akhirnya mengetahui beban berat yang ditanggung Ainun.
Berkali-kali operasi dilakukan, bahkan dengan alat kedokteran terbaru di
Jerman, tetapi kondisi Ainun tidak kunjung membaik. Bagi Habibie, dia
harus memperjuangkan kehidupan Ainun, karena sang istri telah banyak
berkorban untuknya. Sesungguhnya, jauh di lubuk hati Ainun, dia tidak
pernah merasa dikorbankan, dia tulus mendampingi Habibie dan menjadi
istri yang setia, seperti janjinya dahulu sebelum menikah. Sebuah kisah cinta dan kesetiaan yang membuat banyak wanita ingin
memiliki kisah cinta yang sama. Seperti itulah seharusnya seorang pria,
seorang suami, dan seperti itulah seharusnya seorang wanita, seorang
istri. Saling menopang, saling menjaga, saling mencinta dan setia dalam
kemesraan yang manis.
Seorang
sosok yang pintar sejak sekolah di bangku sekolah dasar, kisah
romantisnya bersama Ibu Ainun sejak pertama berjumpa sesaat kepulangan
B.J. Habibie dari Jerman sampai Ibu Ainun berpulang ke Rahmatullah. Ibu
Ainun sangat mencintai Pak Habibie begitu pun sebaliknya Pak Habibie pun
sangat mencintai Ibu Ainun. Saat terakhir kehidupan Ibu Ainun di rumah sakit Jerman, Ibu Ainun masih memperhatikan Pak Habibie. Ketika
Pak Habibie menanyakan apa yang kau takutkan, operasi? Bu Ainun
menggeleng karena di mulutnya terpasang selang jadi menjawab dengan
isyarat. Lalu apa yang kau takutkan, aku? Bu Ainun mengangguk. Takut aku lupa makan dan minum obat? Bu Ainun pun mengangguk kembali. Saat
hidup di Jerman, Bu Ainun berperan sebagai tenaga operasional, mulai
menyetir mengantar Bapak, Ilham dan Thoriq, memasak, mengurus semua
pekerjaan rumah dilakukan sendiri. Walau Bu Ainun bergelar serang dokter namun beliau lebih mendedikasikan kehidupannya untuk melayani suami dan keluarganya.
Pak Habibie sangat kehilangan sosok yang ia cintai dan ia sayangi. Setelah kepergian Ibu, Bapak serasa melihat Ibu ada di setiap sudut matanya. Ibu terlihat dimana-mana. Bapak seperti orang yang linglung, karena selama kehidupannya tidak ada satu tempat pun tanpa kehadiran Ibu. Bapak merasa separuh jiwanya telah pergi bersama kepergian Ibu. Seorang pemimpin keluarga teladan bagi istri dan anak-anaknya. Mencintai
dan memberi kasih sayang yang hangat terhadap keluarga, mulai dari awal
pernikahan Ibu dan Bapak membangun keluarga sakinah yang dipupuk dengan
landasan rasa memiliki, bekerjasama dan saling melengkapi dengan suri
tauladan yang harmonis.
Peran Bu Ainun begitu kental dalam keseharian Pak Habibie dalam menjalani rutinitasnya sebagai seorang yang sangat sibuk. Saat Bapak harus mengerjakan laporan sampai larut malam, Ibu menemani Bapak dengan membaca Al Quran minimal 1 juz per hari. Di
saat Bapak memberikan laporan pertanggungjawaban di hadapan MPR, DPR
saat menjabat Presden RI, Ibu memberikan kertas yang berisi cuplikan
ayat-ayat AlQuran dan Ibu mengiringi dengan doa di rumah. Pak Habibie menemani Bu Ainun selama menjalani perawatan dan penyembuhan di rumah sakit tanpa sehari pun meninggalkan Ibu. Shalat pun dilakukan dengan berjamaah, Bapak menjadi imam dengan membisikan bacaan di telinga Ibu.
ليست هناك تعليقات:
إرسال تعليق